-Ads Here-

Model mobil yang dimaksudkan untuk masyarakat pedesaan sedang dirancang. Pengembangan kendaraan ini membutuhkan sumber daya lokal. Menurut Yan S. Tandiele, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, diharapkan bahwa sumber daya dalam negeri memiliki kapasitas untuk membuat mobil pedesaan. Ini mencakup teknologi dan sumber daya manusianya. Itu benar-benar dilakukan oleh kemampuan lokal. Artinya, jika kita berbicara tentang lokal, kita bicara tentang SDM lokal dan infrastruktur yang sudah ada, seperti sekolah dan perguruan tidak rendah. Kami ingin bekerja sama untuk membuat satu aplikasi pengembangan mobil pedesaan yang melibatkan semua stakeholder dalam negeri, kata Yan.
Pada kesempatan focus group diskusi, I Made Dana M. Tangkas, Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI), mengatakan bahwa untuk meningkatkan daya saing industri otomotif Indonesia, beberapa lembaga harus bekerja sama dan Indonesia juga harus memiliki institut otomotif seperti negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Dia menyatakan bahwa ada tiga tugas utama yang harus kami selesaikan. Pertama, sertifikasi kompetensi. Kemudian, pengembangan IKM dan kendaraan pedesaan.
Dia menyatakan bahwa setidaknya tiga juta orang yang bekerja di industri kendaraan roda empat di Indonesia harus disertifikasi. Karena itu, sertifikasi ini sangat penting untuk melindungi tenaga kerja industri otomotif nasional di dunia modern yang kompetitif. Made menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa tenaga ahli Indonesia yang sudah tersertifikasi pada akhirnya akan bekerja di luar negeri.
IOI sedang menyusun aplikasi pengembangan IKM untuk membangun industri komponen di Ceper dan Tegal, Jawa Tengah. Peningkatan kapasitas IKM ini diharapkan akan meningkatkan daya saing produk di pasar otomotif nasional. Menurut Bpk. Syarif Hidayat, Sekretaris Jenderal Kementeria Perindustrian, sistem pendidikan vokasi nasional harus terhubung dengan kebutuhan tenaga kerja industri otomotif saat ini.
Indonesia harus menetapkan pendidikan vokasi yang terkait dan relevan dengan industri. Oleh karena itu, IOI diharapkan dapat berkontribusi pada kolaborasi antara akademisi dan sektor bisnis. Menurut Haris Munandar, Kepala Tubuh Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, pihaknya memiliki tiga ratus peneliti dan dua puluh dua balai penelitian dan sertifikasi industri untuk mendukung daya saing industri nasional, termasuk sektor otomotif.
Terdapat dua balai yang bergerak di industri otomotif dari jumlah tersebut. Menurutnya, keberadaan IOI juga diharapkan dapat mengatasi kendala pendidikan otomotif yang selama ini terbatas pada termin penelitian tanpa melanjutkan dengan produksi massal.
-Ads Here-